Yangyuna Suara Mutiarta: Sang Penolong dan Tempat Melahirkan Ternyaman

Keberadaan Yuna di rahim Intan terdeteksi saat berumur 5 minggu. Saat itu kurang lebih 7 bulan sejak dilepasnya IUD. Waktu yang hampir sama dengan hadirnya Z setelah kami nikah dulu. Setelah jabang bayi ini dipastikan ada maka petualangan mencari tempat melahirkan dan sang penolong proses melahirkan dimulai.

Proses mencari tempat melahirkan dan sang penolong ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Intan secara pribadi tidak nyaman dengan bentukan yang terlalu rumah sakit dan ingin menerapkan gentle birth. Ada beberapa tempat melahirkan yang menjadi pilihan kami. Beberapa opsi rumah sakit diantaranya adalah RSIA Asih, YPK Menteng, RSIA Hermina, RSIA Bunda Aliyah, SamMarie Basra. Dan tidak terbatas pada pilihan rumah sakit kami juga mencari opsi lahiran yang lain, yaitu di klinik rumahan seperti bidan. Awalnya tidak terpikirkan akan lahiran di rumah, apalagi water birth.

Rumah sakit yang tidak terlalu rumah sakit? Hmmm, membingungkan.. Maksudnya yang homey. Definisi homey, yaitu nyaman, tidak kaku dan menentramkan. Dari beberapa opsi rumah sakit tersebut yang paling homey adalah RSIA Asih dan YPK Mentang. Sebelum kami ke San Francisco tahun 2011 kami periksa calon bayi (Z) di situ dengan dokter Amru hingga sekitar bulan ke-5. Namun ada faktor yang membuat kami urung untuk melahirkan adeknya Z disana. Jauh, hahhaha. Sama dengan alasan kami tidak memilih YPK Menteng. Karena posisi kami di Jatibening maka tempat ini terhitung jauh, keburu lahiran di jalan. Apalagi belakangan kami mendengar dan saksikan kalau RSIA Asih tidak sepenuhnya gentle birth.

Nah, lalu apa yang dimaksud dengan gentle birth menurut kami? Gentle birth adalah lahiran dengan proses yang nyaman, tanpa trauma, minim intervensi medis, penuh support dan positif. Walaupun di rumah sakit dengan metode spontan (bahasa awamnya persalinan normal) ataupun sesar gentle birth ini dapat dilakukan asal prosesnya sesuai dengan birth plan yang sudah disiapkan. Saat melahirkan Z di SFGH (San Francisco General Hospital) menurut kami itu sudah cukup gentle birth karena dengan rentang waktu 22 jam Z tetap ditunggu keluar tanpa dipaksa gunting ataupun sesar. Dan selama proses itu selalu ditanyakan ke kami jika pihak rumah sakit ingin melakukan sesuatu saat proses melahirkan tersebut.

Setelah kualifikasi rumah sakit yang homey lalu rumah sakit yang dekat dengan domisili kami. RSIA SamMarie Basra RSIA Bunda Aliyah dan RSIA Hermina Galaxy. Untuk RSIA SamMarie Basra kami coret lebih awal karena letaknya lebih jauh dari dua lainnya dan biaya periksa juga melahirkan tidak cocok. Selain itu kami tidak menemukan rekomendasi dokter obgyn yang cocok dengan kami saat itu. Yang kedua RSIA Bunda Aliyah. Kami menemukan dokter yang lumayan cocok, beliau adalah Dokter Ichsan. Rumah sakit ini juga akhirnya keluar dari list kami walaupun harganya cocok dan lebih dekat dari Sammarie. Kami keluarkan karena kami memiliki pengalaman buruk dengan pelayanan (suster) dan tempatnya terlalu ramai. Tempat ruang tunggu untuk periksa semuanya dijadikan satu. Walaupun beberapa kali kami sempat periksa dengan Dokter Ichsan di Klinik Raden Inten, tapi kami pindah karena klinik tersebut tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Terakhir adalah RSIA Hermina Galaxy. Kami datang ke dokter Femmy setelah membaca beberapa review baik tentang beliau. Dokter Femmy pro normal (Dokter Femmy menyebutnya demikian mungkin agar lebih dipahami), berisik (dalam arti baik) dan tegas. Cocok dengan kriteria kami. Rumah sakit cukup cocok dengan budget kami dan lokasi yang cukup dekat dengan domisili. Tinggal satu yang kurang klop, rumah sakit yang kurang homey, walaupun kami puas dengan pelayanannya.

Tidak ada yang sempurna tapi kami ingin yang terbaik untuk keluarga kami. Opsi berikutnya adalah melahirkan di bidan. Saat itu kami sangat buta terhadap mana bidan yang mumpuni dan memiliki reputasi baik untuk melahirkan dimanapun. Kami keliling di sekitar rumah kami dan mendapati bidan Ari yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Posisinya di Marna Putra. Rumahnya bagus dan peralatannya meyakinkan, namun setelah kami browsing belum menemukan ulasan tentang beliau. Lalu kami mengobrol dengan sepupu saya (Mas Kevin) yang kebetulan baru saja melahirkan anak keduanya di rumah dengan metode water birth. Banyak ternyata bidan yang menerapkan gentle birth tetapi posisinya agak jauh. Yang utama di Ubud, Bali, murid2 dari yang di bali itu tinggal di Klaten dan beberapa di Depok juga Bekasi. Istri dari sepupu saya melahirkan dengan bidan yang posisinya di Depok. Menurut saya masih terlalu jauh walaupun kami tidak harus ke sana bila sudah due date. Akhirnya kami bertemu bidan Yuli di Tambun dengan Rumah Puspa-nya.

Setelah beberapa kali menghubungi Bidan Yuli lalu kami ke kliniknya di Tambun. Ternyata tidak terlalu jauh, baik via kalimalang ataupun tol karena posisi ruko barunya di Sentra Niaga Kalimalang. Setelah bertemu beliau di ruko pertemuan berikutnya kami ke kliniknya. Setelah itu kami rutin mengikuti kursus, yoga hamil dan periksa di ruko Rumah Puspa hingga tanda cinta dari ade Yuna datang.

Bersambung ke prosesi melahirkan..

DSC09483 copy

Advertisements