A Word A Day: Bekas

Dua hari kemarin Z kesehatannya lumayan mengkhawatirkan hingga akhirnya kami bawa ke dokter untuk di periksa. Ternyata kekhawatiran kami ditenangkan oleh hasil lab yang negative untuk tifus dan DBD. Alhamdulillah. Bangun tidur tadi pagi sudah gak panas. Dia memang kekeh untuk pentas “tarian kodok” hari ini. Entah karena obat yang mujarab, memang sudah pergi virusnya , atau cuma kangen sama dokter Cut ini Z bisa sembuh hari ini, hehe. Kali ini gue mau bahas tentang “bekas”, lanjut tulisan dari “mac” kemarin. Karena gue emang doyan beli barang pre-loved klo kata anak sekarang, hehehe.

Awal gue tau istilah beli barang bekas dan berkualitas adalah dari gitar seharga $5 yang dibeli nyokap saat garage sale di tahun ‘89 di Colorado. Sejak saat itu gue yakin bahwa gak semua barang second hand itu gak berkualitas. Ada beberapa faktor yang buat gue penting kalau barang bekas itu bisa lebih baik dari barang baru. Pertama pastilah harganya bisa lebih murah dari barang baru. Tidak bisa dipungkiri kalau ini faktor utama yang buat gue lebih milih barang bekas daripada baru, hahahha. Kedua adalah barang tersebut pastilah unik. Keunikan ini bisa datang dari barang tersebut yang sudah discontinued. Faktor selanjutnya itu sensasi membelinya. Mengulik barang pre-loved itu petualangan seru menurut gue. Dari mencari spesifik barangnya, membandingkan dengan penjual lain, mengobrol dengan pemilik sebelumnya sampai mengecek kualitasnya. Yang terakhir yang menjadikan barang second hand menarik adalah mengetahui kalau dengan membeli barang bekas adalah salah satu langkah re-use dalam upaya go-green.

Seberapa doyannya gue sama barang pre-loved? Dari yang nempel di badan (baju, kemeja, sepatu), alat musik (gitar listrik, gitar akustik, ampli, dll), isi rumah (kayu palet bekas, toilet, lantai granit, dll), hingga gadget (iphone, macbook kantor-rumah, kamera-lensa, dll). Nahloh ternyata rata-rata barang yang gue punya barang bekas semua. Nah kalo kalian gimana? Kalo kata bini gue barusan, “Halah, bilang aja gak punya duit!”, hahahaha. Lah itu kan udah jadi faktor penentu yang utama=))))

Advertisements