A Word A Day: Kesedihan

Sadness

Hari ini gue gak masuk kantor karena Z sakit batuk pilek sampai demam hampir 40 derajat. Jam 2 nanti akan ke SamMarie Basra untuk ketemu dokter Cut. Z udah 2 malam panas tinggi. Padahal besok seharusnya dia pentas seni “Tarian Kodok” Gue minta maaf tadi malem gak bisa upload tulisan karena harus bantuin kerjaan rumah dan nemenin Z yang lagi sakit. Siang ini gue mau nulis tentang “sedih”. Kali ini diijinin sama Intan karena berhasil meyakinkan kalau sedih itu gak selamanya sedih. Nahloh, gimana tuh? hahaha

Baru aja gue merekam cuplikan lagu gue berjudul “Remembering memories (recall)” dibantu Intan. Ceritanya tentang seorang paruh baya yang sedang mengingat masa lalunya di malam hari. Agak melankolis dan sedih tapi gue bisa seneng dengan itu. Akhir-akhir ini gue emang lebih seneng bikin lagu yang kata orang itu sedih. Tapi menurut gue itu realita. Kalau kata Kyle Fasel dari band Real Friends ungkapan lagu sedih itu adalah untuk mengakui keadaan yang akhirnya harus kita lalui.

Oiya kenapa gue bisa seneng dengan ungkapan kesedihan itu? Karena dengan begitu gue bisa sangat rasakan kebahagiaan yang saat ini gue punya. Setelah kami rekam cuplikan lagu itu, gue peluk dan ciumi Intan yang saat itu sedang masak. Lalu gue sayangi Z menandingi mamahnya. Bahagia itu bisa menjadi lebih jelas jika kita bisa merasakan kesedihan. Contoh sederhana lainnya, kita bisa kerasa gak enknya sehat kalau lagi sakit.

Jadi dengan memandang sisi lain suatu hal yang dibilang negative kita bisa sangat merasa positif. Sekali-sekali tengoklah langit yang tak terbatas saat kalian berada di tengah lautan manusia lalu tersenyumlah. Itu cukup mewakili perasaan sedih yang bahagia. Di dalam film “Inside Out” pun jelas pesannya kalau kita harus mengakui kesedihan daripada menolaknya. Dengan begitu kita bisa “move on” lebih baik. Biarkan kesedihan memainkan perannya untuk mendapatkan stabilitas emosi yang lebih baik. Bukan menghindari atau menekannya. Sampai jumpa besok.

Advertisements