A Word A Day: Kekanakan

Kemarin waktu lagi nyoba ngerapihin rambut ternyata Intan memerhatikan gue dari belakang. Gue kira kenapa, ternyata dia menlihat ada beberapa helai rambut gue yang mulai memutih. Tanda-tanda penuaan katanya *hasyem. Perasaan ini gue rasakan sama seperti saat gue memutuskan untuk menanggalkan dua gigi geraham karena lubang yang cukup parah. Badan ini perlahan merenta. Tapi gak gue biarkan jiwa ini berlarut tua, kekanakan gue jaga didalam badan yang sementara. 

“I think age is just a stupid number” ~ Mark Hoppus

Tua menurut gue itu hanya tubuhnya saja. Dan dewasa itu cara kita bersikap, gak perlu kita selamanya menjadi dewasa. Karena sikap kekanakanlah yang membawa kita lebih bebas juga kreatif. Seperti kata budayawan terkenal, Sujiwo Tejo, “Biarkanlah lelakimu menjadi kanak-kanak” karena ide-ide brilian muncul dari kekanakan yang sederhana. Seperti itu pula gue bersyukur punya istri yang selalu memahami kalau gue harus selalu menjadi kanak-kanak agar tetap menjaga kreativitas. Kadang gue suka joget-joget gak jelas di depan istri bersama Z atau ngisengin mama berkolaborasi sama Z.

Kekanakan ini gue manfaatkan baik di rumah ataupun kerja. Sewaktu kerja “kekanakan” ini mendukung konsep multi dimensi dari latar belakang beragam yang terus coba gue kembangkan untuk merasakan proses sambil memantapkan eksekusi. Beberapa contohnya adalah apa yang terjadi di creative studio gue, tulisan ini, ngeband, semua tanpa dibatasi apapun. Apalagi di rumah, Intan dan Z sangat perlu jiwa kekanakan ini untuk menjaga rumah agar tetap ceria. Saat ceria semua menjadi positif. Apapun bisa dilalui. Saatnya perlu “dewasa” maka muncullah dia untuk memutuskan diinisiasi oleh ide “kekanakan” tadi. Bersyukur sangat lingkungan juga mendukung kekanakan gue, keluarga yang demokratis salah satunya.

Tapi sebetulnya menjadi kanak-kanak bagi sebagian orang adalah hal yang melelahkan, karena dengan alasan “tua” mereka menjadi membenarkan opsi sederhana berdasarkan pengalaman (apa yang mereka tau). Itulah “jangan jadi tua dan menyebalkan” yang dimaksud “Pee Wee Gaskins”, hahhaaha. Pernah paman dari nyokap gue berkata, “Suatu saat kamu pasti akan merasakan karir seperti makan kacang. Tinggal menunggu naik”. Iya trus lupa kulitnya ,si proses itu sendiri (pikir gue). Sampe sekarang gue masih menganut kalau mau melakukan sesuatu yang bermanfaat hingga tua (lebih tua) nanti. Gak ada kata pensiun. Bayangin “post power syndrome” aja ogah.

Menurut gue orang yang mau dan mampu menjaga kekanakannya di dalam kedewasaannya dengan tubuh yang menua adalah orang yang berani menantang dunia. Semua eksplorasi merupakan kesempatan yang tak terbatas.Dunia, wabil khusus Indonesia butuh lebih banyak manusia-manusia kekanakan yang dewasa. Gue memilih untuk tidak dikatakan dewasa dan tua daripada kehilangan kekanakan.

 

They say you don’t grow up

You just grow old,

It’s safe to say I haven’t done both

I made mistakes, I know, I know

But here I am alive.

Yellowcard – Here I Am Alive

Advertisements