A Word A Day: Adek2

Seperti janji gue kemarin, hari ini gue akan sekilas bercerita tentang adek2 gue karena itu cukup memberi banyak pengaruh dalam hidup gue. Malam ini gue nulis dengan membelakangi Z yang lagi nonton Inside Out, godaan pingin nonton, hehe.

Gue adalah anak pertama dari enam bersaudara. Alhamdulillah kami semua diberi nikmat kesehatan sehingga bisa terus bersama sampai saat ini. Adek gue dua perempuan lalu dilanjutkan dengan tiga laki-laki. Berurutan bernama Hening Wangilalang, Lintang Larasati, Iban Getarjati, Langit Jiwapenyaksi dan Jemari Angin Mahatbumi. Nama-nama ini disinyalir didapatkan dari akulturasi ilmu bumi yang berdaya seni tinggi.

Maaf ya adek2, tapi yang paling gue inget kelahirannya adalah adek pertama, yaitu Hening. Kenapa begitu? Karena pada saat itu masih belum banyak hal yang gue lakukan dan adek gue baru dia satu-satunya, hehhee. Hening lahir di kota Malang tak lama setelah kami pindah dari Colorado-tempat bokap studi S2-ke Indonesia. Hening lahir di tahun 1991. Padahal barusan juga nanya sama istri juga kelahiran Hening, haha. Dia anaknya pemalu, serius, suka baca buku, doyan Asian culture khususnya Jepang&Korea dan kalo marah nyeremin. Adek gue yang kedua, Lintang, sering dibilang “dong2” atau susah konek, padahal sih karena dia polos aja. Sama aja y? hehe. Oiya dia juga makhluk yang paling melankolis. Ibu juga gitu. Lintang sekarang sedang ambil sastra inggris di UGM. Dia yang paling pandai bahasa inggris. Yang paling gue inget tentang Lintang di masa kecil adalah keriting dengan pipi tembemnya lagi main creambath di kamar mandi ibu, hahaha. Lalu Iban yang merupakan adek ketiga setelah Lintang. Disebut-sebut dia adalah satu-satunya anak ibu yang makannya gampang. Katanya pada waktu hamil iban, ibu suka marah-marah kalau laper, huehehe. Adek gue yang ketiga ini sekarang sedang tumbuh menjadi individu yang skeptis, kritis, perduli keluarga dan teman. Berikutnya adalah Langit, adek sebelum adek terakhir. Sekarang dia sedang di bangku SMA yang sedang bingung untuk mengambil kuliah apa, antara sound engineer atau marine biology. Yang gue liat akhir-akhir ini dia jadi lebih dependable buat keluarga dan inisiatif untuk melakukan sesuatu, contohnya belajar. Si adek bungsu, Angin, sekarang masih di Sekolah Menengah Pertama. Kemarin waktu gue pindahan dia yang paling sering bantu-bantu, hehe. Angin terlihat paling dekat sama ibu mungkin karena kakak-kakaknya sudah banyak kegiatan. Tapi kan ada Z yang jadi “adek”nya Angin jadi dia suka ikut bantu “ngemong” kalau kami main ke rumah ibu.

Punya adek banyak menurut gue seru. Akhir-akhir ini gue sering sharing sama adek-adek gue. Menjadi kakak yang sempurna selalu tidak bisa gue ukur, yang pasti gue sayang sama semuanya. Ada beberapa sifat alami yang muncul dari sini, yaitu tanggung jawab, sabar, ikhlas dan optimis. “Adek2” mungkin bisa jadi latar belakang yang nantinya bisa gue jadiin theme yang berdiri sendiri untuk menceritakan kejadian-kejadian yang gue alami bersama adek-adek gue. Bagus bisa jadi pengingat setiap kali gue baca laman blog ini. Karena gue orangnya pelupa. Dan “Lupa” akan menjadi tajuk di tulisan esok hari. Eh tapi pak?! Kenapa?

Advertisements