A Word A Day: Geologi

Selamat imlek bagi yang merayakannya yow. Hari ini sakses hujannya, katanya sih berkah sepanjang tahun. Asal berkahnya rame-rame sih goud ikut hepi deh, huehehe. Yarin! Sambil mendengarkan album Total Fat “Come Together, Sing With Us” biar semangat nulis tentang geologi malam ini.

Geologi merasuk ke diri gue sedari kecil. Dari lahir hingga sekarang bokap gue adalah seorang ahli geologi. Cerita dari awalnya tempat gue lahirpun pada saat bokap dinas di Balikpapan, waktu itu perusahaannya bernama HUFFCO sebelum menjadi VICO. Nama gue juga diambil dari salah satu lapangan minyak, yaitu lapangan Mutiara. Sedangkan Mutiarta adalah “Mutiara Cinta”. Kenapa Mutiara? Karena di lapangan itulah bokap yang menjadi junior geologist di tahun pertama memberi catatan pada “kick” di rig yang diduga beliau akan blow out. Ternyata benar kejadian blow out seperti yang diperkirakan dari data yang didapat beliau. Setelah itu bokap mendapat acknowledgment lebih dari perusahaan.

Seperti nafas yang terbiasa, geologi muncul seperti itu di hidup gue. Bokap memang cinta sama geologi dan itu tertular di keluarga. Kalau jalan-jalan ke luar kota kami sering dibawa pergi ke sungai, gunung, danau, laut oleh bokap sekalian beliau ngajar, baik untuk mahasiswa ataupun korporat. Dengan begitu kami juga bisa dengerin beliau cerita banyak tentang bagaimana lingkungan itu terbentuk. Ada kutipan yang menarik dari seorang ahli geology, yaitu “The best geologist is the one who has seen the most rocks” dari kutipan itu gue bisa berpendapat keluarga kami mungkin salah satu keluarga kebumian yang terbaik, hahaha

Oiya waktu gue balita pernah ditanya sama keluarga besar “kalau gede mau jadi apa?” trus gue menjawab “mau jadi PEMBATU”, hahhaa. Alhamdulillah akhirnya gue bisa menjadi lebih dari itu. Pada awalnya gue ambil geologi untuk strata 1 karena alasan yang cukup sederhana, karena penasaran dengan bokap gue. Mungkin karena bokap gue kalau ke lapangan tak hanya sehari atau dua hari. Bisa dibilang juga agar lebih dekat dan nyambung kalau bokap lagi cerita. Dan sewaktu SMA yang milih geologi hanya gue seorang, kebanyakan jadi dokter dan ekonom. Berasa anti mainstream juga pada saat itu, hehehe. Lumayan wangi kebumian di keluarga gue. Istri gue ketemu saat gue kuliah geologi di Trisakti, Hening (ade gue yang pertama) sedang menamatkan kuliah Oseanografi di ITB, ade gue yang ketiga baru masuk di geologi Unpad, sepupu dari bokap juga dapet ilham jadi geolog. Tapi yang pasti walaupun gak ngambil jurusan kebumian, gue yakin kalau geologi sudah seperti nafas di keluarga gue. And we love it.

Mungkin tulisan malam ini cukup sekian dan terima kasih. Besok sepertinya gue mau nulis tentang ade-ade gue yang bisa dibilang gak sedikit. Biar gk jeles cuma di mention sebagian disini, hehehhe. See you tomorrow lads!

Advertisements