A Word A Day: San Francisco

Weekend ini kami bertiga ke rumah uti (eyang putri) dari pihak istri di Ciledug untuk menghadiri acara lamaran adiknya Intan (istri) pada hari minggu. Sebelum menulis agak hopeless karena internet agak error dan waktu senggang agak sempit. Ini sepertinya menulisnya sudah injury time, sudah mau ganti hari. Syuuuuut, ngebut!

Sebetulnya kedua kota ini (Sudbury&San Francisco) dapat dijadikan tema besar dalam setiap tulisan karena banyak cerita-cerita kecil didalamnya yang patut dibagikan ke khalayak. Kota besar ini bisa dikatakan kota pelarian pertama untuk usaha gue melanjutkan sekolah setelah S1. Di kota ini gue dan istri (dengan Z usia 6 bulan kandungan) belajar banyak hal yang baru di luar kebiasaan. Gue terbilang nekat dengan dana yang terhitung pas untuk hidup di kota besar ini. Sebetulnya gue agak bingung mau cerita darimana. Mungkin dari alasan kenapa ke kota ini.

Untuk sekolah lagi dibutuhkan konsentrasi khusus. Di Indonesia gue kerja sebagai geolog di perusahaan konsultan geofisika, kadang membantu di perusahaan berbasis riset geosains bokap, ngeband, persiapan kuliah dan banyak kegiatan2 kecil lainnya termasuk berkeluarga. Keseharian yang cukup menyita waktu itu gak bisa membuat gue fokus pada melanjutkan kuliah. Jadilah gue memutuskan untuk segera keluar dari Indonesia dengan bekal yang Alhamdulillah disisihkan orang tua dan memanfaatkannya. Gue korbankan beberapa diantaranya untuk program Pre-Master Education First. Lalu gue dan istri bersiap-siap berangkat, awalnya bukan ke San Francisco tapi ke Australia. Kami gak jadi ke sana karena menuntut tes medis yang menurut kami akan membahayakan janin. Program University Preparation ini berlangsung 6 bulan. Cukup singkat, dan pada bulan ketiga kursus Z lahir.

Petualangan kami sangat beragam di SF. Ada empat tema pengalaman besar yang bisa diceritakan. Keempatnya adalah tempat tinggal, kelahiran Z, teman dan pendidikan. Mari kita urai secara umum. Tempat tinggal adalah hal terpenting saat kami datang. Secara singkat di SF ini kami berada di 7 tempat tinggal yang berbeda. Kami pernah tidur di 2 hostel, nge”crash” di 2 tempat kerabat, nge”kost” via AirBnb, sebelum tinggal di apartment tua dan tinggal beberapa hari sebelum meninggalkan SF. Teman-teman baru di SF sangat diverse dan helpful. Teman-teman EF sangat beragam dari seluruh dunia, saya baru menyadari cara berfikir masing-masing negara sangat jauh berbeda. Di program gue ada 4 teman dari Indonesia. Dari empat orang tersebut dua diantaranya beasiswa dari pegawai negri (Mb Maya dan Mas Adrian), lalu Felita dan satu lagi saya lupa namanya karena hanya sekilas saja bertemu. Teman berikutnya adalah “Ibu angkat”, yaitu nyokap dari vocalist band gue, tante Heidi. Kami sangat tertolong dan merasa diayomi oleh beliau walaupun beliau sibuk di kantor berbasis sosial. Darinya kami mendapat tempat tinggal sementara di apartmentnya dan apartment mb Sati (klien Tante Heidi). Berikutnya adalah kelahiran Z. Petualangan kami dalam mencari rumah sakit cukup seru yang pada akhirnya kami mendapat layanan gratis karena kami layak mendapat MediCal yang kami pakai di San Francisco General Hospital. Setelah melahirkan pun kami dapat layanan gratis untuk post-partum dan makanan sehat. Keberuntungan yang beruntun, rejeki Z=) Yang terakhir adalah pendidikan. Gue pribadi belajar banyak tentang pendidikan di luar Indonesia. Khususnya Amerika. Setiap murid patut mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersuara. Kami selalu bergiliran untuk mengemukakan pendapat, tidak ada yang salah. Dan ilmu itu disampaikan dengan menerapkan kejadian yang berkembang. Sangat menarik!

Ini hanya sebagian kecil dari cerita di SF. Masih banyak cerita seperti nonton beberapa konser Poppunk, islam fanatik, locavore, lifestyle, dll. Gue janji akan menceritakan detilnya dari setiap tema di lain kesempatan. Gue melanjutkan sekolah dengan beberapa sobat yang menunggu di Indonesia untuk melaksanakan impian bersama di kemudian hari. Impian ini bernama Terrative. Besok gue cuap-cuap tentang Terrative. Ciao!!

Advertisements