A Word A Day: Optimis

Gue menulis kerangka-kerangka ini di perjalanan menuju kantor memakai Gojek. Rutinitas memakai Gojek kurang lebih sudah empet bulan gue jalani. Dan optimis menjadi kata hari ini setelah spontan kemarin.

Entah mengapa sifat optimis telah berada lama di dalam diri. Menurut gue terasa selalu menyenangkan saat kita selalu optimis. Karena optimis berbanding lurus dengan semangat. Gak pernah gue biarin luntur. Kalau bisa gue tularin rasa optimis itu ke orang-orang sekitar. Tentunya ditunjang dengan visi yang jelas walaupun kadang terasa seperti mustahil visi-visi yang tergambar. Mustahil untuk orang lain berarti potensi kesempatan untuk kita. Tul gak? Lagipula mimpi kan wajib digantung setinggi-tingginya.

Contoh yang paling kongkrit dan dekat adalah dengan menulis laman blog ini setiap hari. Optimis dong, karena sudah banyak yang berhasil melakukannya. Pasti juga akan berkembang kedepannya. Sudah terpikir dalam benak ini akan menjadi “A Song A Day” dimana gue akan bikin sehari satu lagu, “An Earth A Day” yang akan menceritakan kebumian pada hari itu, atau “A Fiction A Day” hari tentang cerita fiksi. Ide-ide itu akan muncul saat kita melakukan sesuatu secara optimis karena pikiran kita ikut terpacu.

Sering dari rasa optimis itu malah yang terjadi di luar ekspektasi, menjadi baik atau kebanyakan orang menyebutnya gagal. Tapi sebagai keturunan Jawa gue selalu menyebutnya keuntungan dan keberhasilan yang tertunda. Tidak ada yang sia-sia menurut gue didalam apa yang kita lakukan secara sungguh-sungguh (cliché analogy yet true). Semua keahlian dan pengalaman kita di masa lampau akan berintegrasi menjadi khas diri kita di masa depan. Optimis akan menjadi manfaat di kedepannya. Apapun yang terjadi.

Seperti respon terhadap harga minyak. Kebetulan geologi ada di dalam integrasi keilmuan gua jadi ini termasuk berpengaruh dalam keseharian. Harus optimis. Ini bisa dikatakan sebagai cobaan masyarakat kebumian. Sayapun awalnya tertarik pada geologi salah satunya karena keragaman lapangan kerja dan keahlian. Karena itu juga lah yang seharusnya kita masyarakat geosains cerdas dalam menyikapi kondisi ini. Ada pilihan “ladang” lain untuk tetap konsisten. Beberapa diantaranya geologi lingkungan, geologi teknik dan yang paling ekstrim seperti yang gue lakukan, yaitu biro kreatif yang berkenaan dengan kebumian. Atau bisa menguatkan riset dasar geologi agar bila harga migas memantul kembali kita sudah siap.

Setelah memulai dengan spontan lalu dilakukan dengan konsisten dan rasa optimis lalu rencananya bagaimana. Rencana dapat di inisiasi dengan menerapkan integrasi keahlian yang kita punya. Lalu apa keahlian yang gue miliki? Kita lihat besok.

Advertisements